Dompu, Realitanya.Com- Progres Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Dompu dalam menangani masalah stunting di Kabupaten Dompu menunjukan hasil yang menggembirakan.
Kepala Dikes Dompu, Maman SKM, M.PPM, kepeda media ini kemarin menuturkan, berdasarkan data EPPGBM terkait penanganan stunting dalam tiga tahun terakhir menunjukan penurunan yang sangat signifikan. “Pelayanan stunting di Kabupaten Dompu menunjukan progres yang bagus,”katanya.
Maman menjelaskan, data EPPGBM tahun 2021 angka stunting di Dompu sebanyak 13 persen, di tahun 2022 berada diangka 12,09 persen. Sedangkan di tahun 2023 ini angka Stanting menurun menjadi 10,98 persen.
Menurutnya, angka stanting di Dompu lebih rendah kendati prosetanse Stanting di NTB secara umum mencapai 16 persen.
Ada sejumlah indikator untuk mengatahui bayi dan balita masuk kategori stanting atau tidak. Indikator dimaksud diketahui dari hasil timbangan. Tentu ada standar deviasi yang digunakan petugas untuk memperoleh akurasi data. Bahkan rumus yang dipake yaitu, perbandingan umur bayi dan balita dengan tinggi dikali umur, berat badan dikali umur dan gabungan antara tinggi badan dan berat badan dikali umur. “Kita menggunakan alat timbang namanya dikalibrasi. Ketelitian tim dalam berkerja sangat menentukan data yang akurat,”ujarnya.
Penurunan jumlah bayi dan balita stunting di Dompu tentu buah dari kerjasama yang baik antara Dikes Dompu sebagai kita leadingsectornya dengan dinas/instansi lingkup Pemda Dompu. Dimana ketua tim penanggulangan Stanting di Dompu adalah Wakil Bupati Dompu H.Syahrul Parsan ST.
Semua OPD mengambil bagiannya masing-masing berdasarkan arahan dari Bupati Dompu. Sasaran penanganannya hingga di desa dan kelurahan. Langkah ini terbilang sangat efektif yang dibuktikan dengan data hasil penurunan angka stunting tiap tahunnya selama 3 tahun terakhir.
Sementara Dikes Dompu, setiap bulannya berjuang memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya jarak kehamilan, pemenuhan gizi janin, pola asuh dan pemberian asi sesuai standar dan menjaga kesehatan bayi dan balita dari gangguan penyakit. “Stanting itu terjadi pada bayi dan balita yang memiliki riwayat kesehatan yang buruk. Maka dari itu sangat dianjurkan bagi ibu hamil untuk menjaga jarak hamil, kesehatan janin, memberikan asi selama 2 tahun, serta mengikuti pola asuh bayi dan balita sesuai standar agar anaknya tidak mengalami stunting,”pungkasnya. (Qil-ad)